Suasana pembelajaran di luar kelas terasa berbeda saat mahasiswa yang tergabung dalam Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (SC-PERHAPI) Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang menggelar kegiatan Kuliah Lapangan di Kawasan Geologi Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, pada hari Minggu, 19 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ir. Nofrohu Retongga, S.T., M.T., IPP., yang bertindak sekaligus sebagai Pemateri Lapangan dan Pembina SC-PERHAPI STTIND Padang, mendampingi mahasiswa untuk mengamati langsung fenomena geologi di kawasan tersebut.
Kuliah lapangan ini mengangkat tema besar mengenai upaya mengintegrasikan pembelajaran geologi dengan keilmuan Teknik Pertambangan, khususnya pada aspek-aspek yang menjadi fondasi penting dalam perancangan dan operasional tambang, yaitu petrologi, geologi struktur, dan kestabilan lereng. Pemilihan Kawasan Geologi Mandeh sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan, mengingat kawasan ini dikenal memiliki keragaman singkapan batuan serta struktur geologi yang representatif untuk dijadikan objek pembelajaran langsung di lapangan.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa diajak untuk mengamati dan mengidentifikasi berbagai jenis batuan yang tersingkap di kawasan Mandeh, mempelajari proses pembentukannya, serta menganalisis karakteristik petrologisnya. Selain itu, mahasiswa juga diarahkan untuk mengamati unsur-unsur geologi struktur seperti kekar, sesar, dan perlapisan batuan yang berkembang di area tersebut sebagai bekal untuk memahami kondisi permukaan yang relevan dengan kegiatan penambangan.
Aspek kestabilan lereng turut menjadi sorotan utama dalam kuliah lapangan ini. Mahasiswa diajak untuk mengaitkan kondisi geologi yang diamati di lapangan dengan prinsip-prinsip kestabilan lereng yang menjadi salah satu pertimbangan krusial dalam perancangan tambang terbuka. Melalui pengamatan langsung terhadap geometri lereng buatan akibat aktivitas peledakan saat pembukaan jalan di kawasan Mandeh, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai faktor-faktor geologis yang dapat memengaruhi tingkat kestabilan suatu lereng, baik pada kondisi lereng hasil rekayasa.
Dalam kesempatan tersebut, Ir. Nofrohu Retongga, S.T., M.T., IPP., menjelaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap ilmu geologi merupakan fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari keilmuan Teknik Pertambangan. Menurutnya, seorang calon insinyur tambang perlu memiliki kepekaan dalam membaca kondisi geologi di lapangan, karena hal tersebut akan sangat menentukan ketepatan perencanaan, perancangan, hingga pengelolaan risiko selama kegiatan penambangan berlangsung.
Kegiatan Kuliah Lapangan SC-PERHAPI STTIND Padang ini juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan observasi lapangan, ketelitian dalam pencatatan data geologi, serta kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan temuan lapangan secara ilmiah. Selain aspek akademik, kegiatan ini turut mempererat kebersamaan antaranggota SC-PERHAPI STTIND Padang melalui pengalaman belajar bersama di alam terbuka.
Melalui kuliah lapangan di Kawasan Geologi Mandeh ini, SC-PERHAPI STTIND Padang menegaskan komitmennya untuk mendorong mahasiswa Teknik Pertambangan tidak hanya menguasai teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung di lapangan sebagai bekal menghadapi tantangan dunia kerja di sektor pertambangan. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan mengangkat tema-tema kebumian lainnya, guna memperkuat kompetensi keilmuan mahasiswa yang adaptif terhadap perkembangan kebutuhan industri pertambangan.
